Caleg: Antara Pengabdian dan Panguripan
Oleh Victor | Mar. 26, 2009 | Its my mind, My Journal
Sudah beberapa bulan terakhir ini, Indonesia marak dengan persiapan Pemilu 2009. Di Jogja sendiri, di kota dimana saya tinggal, sudah beberapa bulan ini menjadi ‘kotor’. Kotor bukan karena sampah, tapi ‘kotor’ dengan spanduk-spanduk partai dan calon anggota legislatif yang bertebaran tidak tertata di sepanjang jalan besar sampai jalan kecil di kampung-kampung.
Mendadak Artis
Gambar-gambar calon legislatif yang bertebaran di jalan dari ukuran mini sampai super jumbo terpasang di jalan tidak mau kalah dengan spanduk bahkan billboard yang bergambar artis mempromosikan sebuah produk atau perusahaan tertentu. Bisa dibayangkan seberapa besar pajak yang diterima pemerintah daerah dengan pemasangan gambar-gambar calon legislatif tersebut, jika mereka membayar pajak pemasangan spanduk mereka. Tapi, apa benar mereka membayar pajak? Padahal pajak tersebut bisa menjadi pemasukan yang lumayan bagi pemerintah daerah yang tentu saja diharapkan bisa digunakan untuk mengembangkan daerah tersebut.
Anggota Legislatif = Lowongan Kerja
Selain memasang gambar diri di jalan yang tentunya harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, caleg tersebut masih harus mengeluarkan jurus-jurus lain untuk mempopulerkan dirinya dengan harapan mendapat ‘contreng-an’ sebanyak-banyaknya dari para pemilih, mulai dari tebar pesona dengan janji, memberikan hiburan gratis, sampai memberikan apapun yang gratis kepada masyarakat (sticker gratis, kalender gratis, tapi ada fotonya si pemberi). Apapun dilakukan untuk menjadikan figur caleg tersebut dapat tertanam dan teringat oleh pemilih pada saat pen-’contreng’-an tiba.
Berapa total dana yang dikeluarkan para calon legislatif untuk itu semua? Apa cukup dengan 100 ribu, 1 juta, 10 juta, 100 juta, atau lebih dari itu? Seberapa besarkah keinginan untuk menjadi anggota legislatif sampai rela mengeluarkan dana yang pasti cukup fantastis jika dibuka secara jujur.
Tentu, kita masih ingat beberapa kasus penipuan yang menimpa masyarakat Indonesia sampai berpuluh-puluh juta yang dilakukan oleh oknum-oknum yang mengaku bisa menyalurkan korban menjadi pegawai sebuah perusahaan negeri atau swasta. Untuk bisa menjadi pegawai perusahaan tertentu, si korban diminta menyerahkan sejumlah uang sebagai uang ‘pelicin’ (kalo terlalu licin bisa jatuh nih), hingga pada akhirnya pekerjaan yang dijanjikan tidak pernah datang, dan si oknum kabur bersama uangnya.
Apa bedanya kasu penipuan ini dengan caleg? Menurut saya yang beda hanya modelnya saja, hanya saja dalam kasus caleg ini tidak jelas siapa yang ditipu dan siapa yang menipu. Yang jadi persamaan adalah, orang rela mengeluarkan uang berapapun yang mereka mampu keluarkan (kalau kurang yang jual apa yang bisa dijual) untuk menduduki satu posisi pekerjaan tertentu.
Pengabdian atau Cari Uang
Setelah mengeluarkan dana yang tidak sedikit, dan ternyata berhasil menjadi anggota legislatif, apa yang akan dilakukan? Apakah akan menjadi abdi atau wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan menjadi suara rakyat di gedung DPR & DPRD? Apakah menjadi abdi atau wakil partai, yang tentu saja mendahulukan kepentingan partainya? Apakah menjadi menjadi abdi atau wakil diri sendiri, dalam rangka mencari pengembalian dana atas dana yang telah dikeluarkan untuk menduduki jabatan tersebut beserta bunganya? Atau semuanya bisa dilakukan bersama-sama? salah satu, salah dua, atau malah salah semua?
Ternyata sebagai orang biasa, saya sendiri jadi bingung, apa yang mereka harapkan dan kerjakan nantinya setelah menjadi anggota legislatif???
RS Jiwa sebagai pilihan alternatif
Rumah Sakit Jiwa, sepertinya menjadi salah satu pilihan alternatif bagi para calon legislatif. Di Bogor, ada sebuah rumah sakit jiwa yang sedang sibuk mempersiapkan kamar-kamar khusus dengan fasilitas khusus dan istimewa bagi para calon legislatif yang ternyata gagal dan menderita stress akut. Mengapa sampai rumah sakit jiwa ikutan sibuk? Yah, saya kira cukup logis, dengan dana kampanye yang tidak sedikit tersebut, dan tidak terpilih tentu saja akan menjadikan stress di jaman yang sulit seperti ini (udah tau sulit kok ya maksa). Kita tinggal tunggu saja nanti usai pemilu, kita perhatikan berita di media cetak dan elektronik, kasus-kasus apa yang muncul sebagai akibat gagalnya jadi anggota legislatif.
Kerendahan hati dan profesional
Semoga pemilu tahun ini bisa berjalan dengan lancar, dan para calon anggota legislatif siap dan bisa menerima apapun hasilnya dengan rendah hati, dan bagi calon anggota legislatif yang terpilih bisa melaksanakan tugas pengabdiannya secara profesional dan benar-benar berpihak kepada rakyat yang telah mempercayakan tugas berat ini kepada mereka. Jangan jadikan tugas dan pekerjaan anggota legislatif ini semata-mata sebagai sebuah mata pencaharian.







March 26th, 2009 at 11:41
Jadi makin bingung. Nanti milih siapa??
March 27th, 2009 at 10:16
Aku juga bingung mau milih yg mana, wong sama calegnya aja ndak tau?
btw, selamat ya mas… atas internet sehat blog award 2009.
sukses selalu.
March 27th, 2009 at 12:41
Wah, kalo soal bingung sih sama aja, simpen dulu aja bingungnya, yang penting datang ke TPS dulu aja besok, nah di dalam bilik ngapain itu yang bikin bingung … he he he.
@ Cyber Katrox, tengkiu bro…
April 22nd, 2009 at 02:14
[...] pilih sebagai sarana koneksi, ponsel atau modem usb? Pilihan tetap ada di tangan Anda (wah, kaya pemilu ya…., he he he). Sebelum memutuskan, ada baiknya melakukan survei jaringan dari operator yang [...]