- Tips dan trik mempercepat koneksi internet - Tips dan trik memonitor bandwidth koneksi internet - Software lain seputar koneksi internet -

Mengapa harus seperti itu?

Oleh | Feb. 21, 2009 | Its my mind, My Journal

Melihat tayangan TV beberapa hari terakhir ini, membuat aku heran, ada apa dengan bangsa ini? Adegan kekerasan kembali muncul, siswi sekolah adu jotos, tendang, jambak. Anggota polisi yang harusnya memberikan contoh baik dan melindungi masyarakat, malah mempertontonkan adegan yang sangat tidak layak untuk ditiru. Orang-orang berseragam mirip tentara pun tidak mau ketinggalan, berlatih silat layaknya film mandarin dengan objek sasaran teman sendiri.

Ditambah lagi, guru yang mencoba menyelesaikan permasalahan di antara anak didiknya dengan sarung tinju layaknya pertandingan tinju kelas amatir. Yang terakhir (yang saya tau), hanya karena telat mengirimkan makan malam, dihajar abis-abisan sampai masuk rumah sakit.

Mau jadi apa sih kita???

Mengatasnamakan kenangan untuk perpisahan? Skenario yang dibuat-buat gak jelas maksud dan tujuannya? Menyelesaikan masalah dengan mudah? (kenapa gak ke Pegadaian aja… yang menyelesaikan masalah tanpa masalah), atau menganggap itu sebagai sarana pelatihan kedisiplinan?

Terlepas antara benar dan tidaknya gambar rekaman video amatir dengan sarana ponsel tersebut, bagiku itu sudah keterlaluan. Jika itu benar adanya, maka lebih memalukan lagi karena di’aktor’i oleh tokoh-tokoh yang seharusnya menjadi panutan. Jika orang-orang yang jadi panutan seperti itu, mau jadi apa kita?

Coba kalo sekarang yang menjadi korban adalah anak atau saudara dari si pelaku kekerasan? Apa mereka mau menerima perlakuan seperti itu?

Kekerasan bukan satu-satunya jalan yang bisa menyelesaikan masalah, semuanya pasti bisa diselesaikan dengan damai, kepala dingin, kerendahan hati, dan bijaksana.

Semoga tayangan kekerasan yang sangat tidak layak ditiru tersebut tidak terjadi lagi, dan permasalahan tersebut bisa terselesaikan dengan baik dan jujur, jangan hanya terus ditutup-tutupi dan hilang tak berbekas hanya untuk melindungi kepentingan segelintir orang atau kelompok yang tidak layak untuk dicontoh dan ditiru.

Bagi para orang tua, sebaiknya dampingi putra-putri kita dalam menyaksikan tayangan seperti itu yang jelas tidak bermutu, jangan sampai putra-putri kita menganggap tayangan itu sebagai contoh yang bisa mereka tiru.

Bookmark and Share

:

4 komentar:

4 Responses to “Mengapa harus seperti itu?”

  1. 1
    d3ptzz Says:

    hah..setuju mas..

    apalagi media sekarang juga kayaknya terlalu over…membesar-besarkan….

  2. 2
    endut Says:

    hayo mas..termehek-mehek tu juga ngajarin gak bener lo itu..
    jgn sering2 nonton ya..hihi
    *sok tau*
    suka theme song nya,kan??

  3. 3
    Victor Says:

    Ha ha ha, kok jadi sampe termehek-mehek, ini pasti si endut yang imut itu ya…..

    Termehek-mehek itu diambil sisi positifnya aja, yang jelek-jelek gak usah…. (ha ha ha ketauan kalo suka nonton Termehek Mehek juga nih…), itu d3ptzz aja setuju kok… :D

  4. 4
    Cah Ciliq Says:

    Itu semua gara-gara sinetron kita yg gak pada mendidik,yang sering menampilkan intrik2,kebencian dan fitnah, serta kekerasan…:(

Leave a Reply